Oleh : Yunita Agustantya, Ilmu Komunikas, Universitas Teknologi Sumbawa
Editor : Aaqil Umais
Jalan Rakyat, Opini - Di banyak kasus, suara publik sebenarnya sudah ada. Keluhan-keluhan yang disampaikan, diutarakan, dan tuntutan sudah lama disuarakan. Tapi anehnya, semua itu sering baru dianggap penting ketika masuk berita saja. Di titik inilah kita bisa melihat bagaimana kelompok tekanan itu bekerja, dan betapa besarnya peran media sebagai “oksigen” bagi suara-suara tersebut.
Kelompok tekanan itu bukan pemain politik yang ingin merebut kursi kekuasaan. Mereka adalah kelompok masyarakat yang berusaha memengaruhi kebijakan lewat tekanan publik: mahasiswa yang turun ke jalan, warga yang menolak tambang, buruh yang menuntut hak, atau komunitas yang memperjuangkan lingkungan. Mereka bergerak karena merasa saluran resmi tidak cukup mampu menampung suara-suara mereka.
Masalahnya, tekanan tidak selalu otomatis terdengar. Banyak tuntutan yang berakhir sunyi karena tidak pernah keluar dari lingkaran internal. Di sinilah media menjadi penentu. Ketika media mengangkat sebuah isu, tuntutan itu berubah dari sekadar keluhan menjadi pembicaraan publik. Publisitas membuat tekanan punya daya hidup.
Dalam kajian politik, kelompok tekanan memang bergantung pada ruang publik untuk bekerja. Tanpa sorotan, tekanan kehilangan maknanya. Istilah oxygen of publicity menggambarkan situasi ini dengan tepat: publisitas adalah napas bagi gerakan sosial. Tanpa napas, gerakan akan pelan-pelan mati, sekeras apa pun teriakannya.
Media tidak hanya menyebarkan informasi, tetapi juga membentuk persepsi. Cara media membingkai aksi protes apakah sebagai kegaduhan, keresahan, atau perjuangan akan sangat memengaruhi cara publik memandang kelompok tekanan. Di titik ini, media menjadi arena penting perebutan makna, bukan sekadar saluran berita.
Kita bisa melihat di Indonesia, bagaimana isu yang awalnya dianggap kecil bisa berubah menjadi sorotan nasional setelah diliput berulang kali. Pemerintah yang sebelumnya diam, tiba-tiba memberi pernyataan. Kebijakan yang dianggap final, kembali dibicarakan. Semua itu menunjukkan bahwa tekanan publik bekerja paling kuat ketika mendapat perhatian media.
Namun, relasi antara kelompok tekanan dan media juga tidak selalu adil. Tidak semua suara mendapat panggung yang sama. Isu yang dianggap “tidak menarik” atau kelompok yang tidak punya akses media sering kali terpinggirkan. Di sisi lain, kelompok tekanan juga bisa terjebak pada keinginan untuk selalu terlihat, hingga lupa pada substansi perjuangannya.
Perkembangan media digital memang membuka ruang baru. Media sosial memungkinkan siapa pun menciptakan publisitas sendiri. Tetapi ruang ini juga penuh risiko: disinformasi, persekusi, dan kriminalisasi pendapat menjadi ancaman nyata bagi mereka yang bersuara kritis.
Pada akhirnya, suara publik tidak pernah benar-benar lemah. Ia hanya sering kali tidak diberi ruang.
Kelompok tekanan hadir untuk membuka ruang itu, dan media menjadi pintu yang menentukan apakah suara tersebut akan masuk atau kembali tertutup. Selama suara publik masih membutuhkan sorotan untuk didengar, media akan tetap menjadi oksigen bagi demokrasi.
Catatan Bacaan
Truman, David B. The Governmental Process.
Edelman, Murray. The Symbolic Uses of Politics.
McQuail, Denis. Mass Communication Theory.

0Komentar